MODEL-MODEL
BELAJAR DAN RUMPUN MODEL MENGAJAR
A. Model-Model Belajar
1.
Defenisi
Model Pembelajaran
Joyce
& Weil (1980) (dalam Sumantri (2016:37) mendefinisikan model pembelajaran
sebagai kerangka konseptial yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan pembelajaran.
Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang melukiskan produser yang
sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan
belajar. jadi, model belajar cenderung prespektif, yang relative sulit
dibedakan dengan strategi pembelajaran.
Dengan
demikian, model pembelajaran merupakan langkah-langkah atau gambaran belajar
untuk memperoleh tujuan dan hasil belajar yang sudah di tentukan.
2.
Model-model
Pembelajaran
Menurut
Sumantri (2016:42) model-model
pembelajaran di Sekolah Dasar sebagai berikut:
a.
Model
Pembelajaran Berbasis Masalah ( Problem
Based Learning)
Pembelajaran
berbasis masalah dapat diartikan sebagai rangkaian aktivitas pembelajara
yang menekankan kepada proses
penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah. Menurut Wina Sanjaya (2009)
(dalam sumantri (2016:42) , pembelajaran berbasis masalah merupakan salah satu
model yang pembelajaran yang berasosiasi dengan pembelajaran kontekstual.
Pembelajaran artinya dihadapkan pada suta masalah, kemudian dengan melalui
pemecahan masalah, melalui masalah tersebut siswa belajar
keterampilan-keterampilan yang lebih mendasar.menurut Sumiati (2009) (dalam
sumantri (2016:43) pembelajaran berdasarkan masalah adalah suatu pendekatan
untuk mempelajarkan siswa untuk mengembangkan keterampilan berpikir dan
keterampilan memecahkan masalah, belajar peranan orang dewasa yang autentik
serta menjadi pelajar mandiri.
1) Cirri-ciri
model pembelajaran berbasis masalah
Menurut Sumantri (2016:44) model
pembelajaran berbasis masalah, mempunyai ciri-ciri utama yang terdapat dalam
model ini, diantaranya sebagai beikut:
a) Strategi
pembelajaran berbasis masalah merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran
artinya dalam pembelajaran ini tidak mengharapkan siswa hanya sekedar
mendengar, mencatat kemudian menghafal materi pelajaran, akan tetapi melalui
strategi pembelajaran berbasis masalah siswa aktif berfikir, berkomunikasi,
mencari dan mengelolah data dan akhirnya menyimpulkannya.
b) Aktivitas
pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah. Strategi pembelajaran
berbasis masalah menempatkan masalah sebagai kata kunci dari proses
pembelajaran. Artinya, tanpa masalah tidak mungkin ada proses pembelajaran.
c) Pemecahan
masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir secara ilmiah.
Berpikir dengan menggunakan metode ilmiah adalah proses berpikir deduktifdan
induktif. Proses berpikir ini dilakukan secara sistematis dan empiris,
sistematis artinya berpikir ilmiah dilakukan melalui tahapan-tahapan tertentu,
sedangkan empiris artinya proses penyelesaian masalah didasarkan pada data dan
fakta yang jelas.
2) Tujuan
model PBL
Terdapat sejumlah tujuan dari problem based learning ini. Menurut
Eveline (2010) dalam Sumantri (2016: 44), problem
based learning dapat meningkatkan kedisiplinan dan kesuksesan dalam hal:
a) Adaptasi
dan partisipasi dalam suatu perubahan
b) Aplikasi
dari pemecahan masalah dalam situasi yang baru atau yang akan datang
c) Pemikiran
yang kreatif dan kritis
d) Adaptasi
data holistic untuk masalah-masalah dan situasi-situasi
e) Apresiasi
dari beragam cara pandang
f) Kolaborasi
tim yang sukses
g) Identifikasi
dalam mempelajari kelemahan dan kekuatan
h) Kemajuan
mengarahkan diri sendiri
i)
Kemampuan komunikasi yang efektif
3) Keunggulan
model PBL
Setiap model pembelajaran mempunyai
keunggulan. Menurut Sumantri (2016:46) keunggulan model pembelajaran berbasis
masalah antaranya:
a) Melatih
siswa untuk mendesain suatu penemuan
b) Berpikir
dan bertindak kreatif
c) Siswa
dapat memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis
d) Mengidemtifikasi
dan mengevaluasi penyelidikan
e) Menafsirkan
dan mengevaluasi hasil pengamatan
f) Merangsang
bagi perkembangan kemajuan berpikir siswa untuk menyelasaikan suatu
permasalahan yang dihadapi dengan tepat
g) Dapat
membuat pendidikan lebih relevan dengan kehidupan
4) Kekurangan
model PBL
a) Beberapa
pokok bahasan sulit untuk menerapkan model ini.
Misalnya: terbatasnya sarana prasarana
atau media pembelajaran yang dimiliki dapat menyulitkan siswa untuk memilih dan
mengamati serta akhirnya dapat menyimpulkan konsep yang diajarkan
b) Membutuhkan
alokasi waktu yang lebih panjang
c) Pembelajaran
hanya berdasarkan masalah.
b.
Model
Pembelajaran Kooperatif
Menurur
Sumantri (2016:49) Model pembelajaran kooperatif adalah rangkaian kegiatan
belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompol-kelompok tertentu untuk
mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.
Dalam
kegiatan pembelajaran sangat penting memerhatikan tipe pembelajaran yang
digunakan. Namun, sekarang masih banyak guru yang mengajar tanpa memerhatikan
tipe pembelajaran yang digunakannya. Sahingga, pembelajaran terasa membosankan
bagi siswa. Agar siswa tertarik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, maka
guru perlu mengerti karakteristik siswa sehingga tepat dalam memilih tipe
pembelajaran yang digunakan.
1) Manfaat
pembelajaran kooperatif
a) Siswa yang diajari dengan dan dalam
struktur-struktur kooperatif akan memperoleh hasil pembelajaran yang lebih
tinggi
b) Siswa
yang berpartisispasi dalam pembelajaran kooperatif akan memiliki sikap harga
diri yang lebih tinggi dan motivasi yang lebih besar untuk belajar
c) Dengan
pembelajaran kooperatif, siswa lebih menjadi peduli pada teman-temannya, dan
diantara mereka akan terbangun rasa ketergantungan yang positif ( interdepedensi positif) yang proses
belajar mereka nanti
d) Pembelajaran
kooperatif meningkatkan rasa penerimaan siswa terhadap teman-temanny yang
berasal dari latar belakang ras dan etnik yang berbeda-beda.
2) Kelemahan
pembelajaran kooperatif
a) Guru
harus mempersiapkan pembelajaran secara matang, disamping itu memerlukan lebih
banyak tenaga, pemikiran dan waktu
b) Agar
proses pembelajaran berjalan dengan lancer, maka dibutuhkan dukungan fasilitas,
alat dan biaya yang cukup memadai
c) Selama
kegiatan diskusi kelompok berlangsung, ada kecenderungan topic permasalahan
yang sedang dibahas meluas sehingga banyak yang tidak sesuai dengan waktu yang
telah ditentukan
d) Saat
diskusi kelas, terkadang didominasi oleh seseorang, hal ini mengakibatkan siswa
yang lain menjadi pasif.
c.
Model
pembelajaran peningkatan kemampuan berpikir
Menurut
Sanjaya (2007) (dalam Sumantri (2016: 70) model pembelajaran peningkatan
kemampuan berpikir adalah model pembelajaran yang menekankan pada kemampuan
berpikir siswa. Pad metode ini materi pembelajaran tidak disajikan begitu saja
kepada siswa, tetapi siswa dibimbing untuk menentukan sendiri konsep yang harus
dikuasai melalui proses dialogis yang dilakukan terus-menerus dengan manfaat
pengalaman siswa. Model ini menekankan kepada aktivitas siswa untuk mencari
pemahaman akan objek, menganalisis, dan mengonstruksinya sehingga terbentuk
pengetahuan barudalam diri individu.
1) Kelebihan
dan kekurangan model pembelajaran peningkatan kemampuan berpikir
Setiap
model pembelajaran pasti memiliki keunggulan dan kelemahannya masing-masing.
Adapun kelebihan dari model pembelajaran meningkatkan berpikir ini, yaitu:
a) Siswa
lebih siap menghadapi setiap persoalan yang disajikan oleh guru
b) Prioritas
pembelajaran menekankan pada keterampilan siswa
c) Memberikan
kebebesan untuk menggali kemampuan siswa dengan berbagai media yang ada
Sedangkan kelemahannya
a) Hanya
sekolah yang sesuai dengan karakteristik model penigkatan kemampuan berpikir
yang dapat melaksanakan model ini dengan baik.
b) Kelemahan
model ini bukan kelemahan dari model pembelajaran itu sendiri, tetapi karena
faktor di luar model pembelajaran. Faktor tersebut berkenaan dengan kesiapan
guru, siswa dan kondisi siswa.
c) Faktor
waktu belajar yang tersedia tidak cukup dengan pembelajaran model peningkatan
kemampuan berpikir yang membutuhkan waktu relative banyak
d) Siswa
yang memiliki kemampuan dibawahrata-rata sulit mengikuti model pembelajaran
peningkatan kemampuan berpikir ini.
B. Rumpun Model Mengajar
Menurut
suprihatiningrum (2016: 189) saat ini dikenal paradigm model mengajar, yaitu teacher centered dan student centered. Teacher centered memusatkan
pembelajaran pada guru. Guru merupakan satu-satunya suber informasi didalam
kelas. Model ini dikenal juga dengan istilah tipe otokratis. Sementara student
centered memusatkan pembelajaran pada siswa. Model ini dikenal juga dengan
istilah tipe demokratis. Guru kelas
berperan sebagai penyedia layanan dan memfasilitasi siswa untuk belajar.
kurikulum berbasis kompetensi menurut
paradigma student centered. Kurikulum
ini mengharuskan guru menyusun menyusun model mengajar yang mana siswanya harus
aktif mencari dan menemukan pengetahuan mereka sendiri.
Menurut
joyce & weil (dalam suprihatiningrum 2016:189) membagi model-model mengajar
menjadi beberapa kategori sebagai berikut:
1.
Information Processing Model (Model Pemrosesan Informasi)
Model
menekankan pada pengolahan informasi dalam otak sebagai aktivitas mental siswa.
Model ini akan mengoptimalkan daya nalar dan daya pikir siswa melalui pemberian
masalah yang yang disajikan oleh guru. Tugas siswa adalah memecahkan
masalah-masalah tersebut. Dalam model ini akan merangkai kegiatan-kegiatan
siswa melalui dari siswa menanggapi rangsangan dari lingkungan, mengolah data,
mendeteksi masalah, menyusun konsep, memecahkan masalah, dan menggunakan
symbol-simbol, baik verbal dan nonverbal. Model ini menerapkan teori belajar
behaviorostik dan kognitivistik.
Ada
tujuh model yang termasuk rumpun ini, yakni:
a. Inductive thinking model (Hilda
Taba)
b. Inquiry training model (
Richard Suchman)
c. Scientifict inquiry (Joseph
J. Schwab)
d. Consept attainment (
Jerome Bruner)
e. Cognitive growth (Jean
Piaget, Irving Sigel, Edmund Sullivan, Lawrence Hholberg)
f. Advance organizer Model (David
Ausubel)
g. Memory (Harry
Lorayne, Jerry Lucas)
Inquiry training model dan
scientific inquiry lebih menekankan
pada keterampilan siswa dalam memecahkan masalah. Sementara lima model mengajar
lainnya menekankan pada kecepatan kognitif.
2.
Personal Model ( Model Pribadi)
Sesuai
dengan namanya, model mengajar dalam rumpun ini berorientasi kepada
perkembangan diri individu. Setiap siswa adalah individu unik yang berinteraksi
dengan lingkungannya. Oleh karena itu, model mengajar ini memfokuskan kepada
usaha guru untuk menolong siswa dalam mengembangkan hubungan yang produktif
dengan lingkungannya. Dengan model ini, siswa diharapkan dapat melihat potensi
diri dan mengembangkannya dalam bentuk kecakapan sebagai bagian dari suatu
kelompok. Model-model mengajar dalam rumpun ini juga melibatkan ranah rasa dan
emosional siswa dalam menjalin hubungan interpersonal yang produktif.
Terdapat
lima model yang termasuk rumpun ini menurut Suprihatiningrum (2016: 188)
a. Nondirective teaching (Carl
Rogers)
b. Awareness training (
William Achutz)
c. Synecties (William
Gordon)
d. Conceptual Systems (David
Hunt)
e. Classroom meeting (William
Glasser)
3.
Social Interaction Model (Model Interaksi Sosial)
Model
interaksi sosil adalah rumpun model mengajar yang menitikberatkan pada proses
interaksi antarindividu yang terjadi dalam kelompok. Model-model mengajar disetting dalam pembelajaran berkelompok.
Model ini mengutamakan pengembangan kecakapan individu dalam berhubung dengan
orang lain. Siswa dihadapkan pada situasi yang demokratis dan didorong untuk
berprilaku produktif dalam masyarakat. Melalui model ini, guru menciptakan
timbulnya dialog antarsiswa dan siswa belajar dari dialog yang dilakukannya.
Isi pelajaran difokuskan kepada masalah-masalah yang berkenaan dengan
sosiokultural. Salah satu contoh model yang sering diterapkan oleh guru adalah
bermain peran (role playing).
Ada
enam model yang termasuk rumpun ini menurut Suprihatiningrum (2016: 189)
sebagai berikut:
a. Group investigation (Herberr
Thelen, John Dewey)
b. Social Inquiry (Byron
Massalas, Benjamin Cox)
c. Laboratory method (National
Training,Laboratory Bethel, Maine)
d. Jurisprudential (Donald
Oliver, Jamas P. shaver)
e. Role playing (Fannie
Shafrel, George Shafrel)
f. Sosial simulation (
Sarane Boocock, Harold Guetzkow)
4.
Behavioral Model (Model Perilaku)
Teori
ini sesuai dengan teori belajar behavioristik. Pembelajaran harus memberikan
perubahan pada perilaku si pembelajar kea rah yang sejalan dengan tujuan
pembelajaran. Perubahan ini harus dapat diamati. Oleh karena itu, guru dapat
menguraikan langkah-langkah pembelajaran yang konkret dan dapat diamati.
Terdapat tujuh model yang termasuk rumpun ini.
a. Contingency management (
B. F. Skinner)
b. Self-control (B.
F. Skinner)
c. Relaxation (Rimm
dan Masters, Wolpe)
d. Stress reducation (Rimm
dan Masters, Wolp)
e. Assertive training (Wolpe,
Lazarus, Salter)
f. Desensitization (Wolpe)
g. Direct training (Gagne,
Smith, and Smith).
DAFTAR
PUSTAKA
Sumantri,
Mohammad Syarif. 2016. Strategi
Pembelajaran Teori dan Praktik Di Tingkat Pendidikan Dasar. Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada
Suprihatiningrum,
Jamil. 2016. Strategi Pembelajaran Teori
& Aplikasi. Jogjakarta: Ar- Ruzz Media
Seperti apa contoh pengaplikasian PBL bagi siswa Sd?
BalasHapusContohnya pada kegiatan inti guru memberikan masalah terhadap siswa lalu siswa memecahkan masalah itu. Contohnya pada pembelajaran matematika materi bangun datar siswa disuruh mencari luas dari bangun datar
HapusCoba saudari berikan contoh dari model pembelaharan peningkatan kemampuan berfikir pada anak sd
BalasHapusCoba saudari berikan contoh dari model pembelaharan peningkatan kemampuan berfikir pada anak sd
BalasHapusContoh dari model pembelajaran peningkatan kemampuan berfikir pada anak sd yaitu model pembelajaran bersasis masalah (problem based learning)
HapusApakah model pembelajaran kooperatif bisa diterapkan di kelas rendah??
BalasHapusModel pembelajaran kooperatif Kurang cocok diterapkan di kelas rendah
HapusKarena pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran berkelompok
Model pembelajaram mana yang cocok untuk diterapkan di sekolah dasar?
BalasHapusSemua model pembelajaran bisa diterapkan di sekolah dasar, tergantung pada mata pelajaran dan kelasnya
HapusMenurut saudara apakah model pembelajaran berbasis masalah bisa digunakan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia
BalasHapusModel pembelajaran berbasis masalah tidak bisa digunakan dalam mata pelajaran bahasa indonesia, karena PBL itu harus ada permasalahan dalam kegiatan inti di awal pembelajaran
HapusApakah model2 tersebut memiliki ksamaan dalm penerapnnya mhon pnjelasannya
BalasHapusTidak
HapusKarena setiap model pembelajaran memiliki langkah-langkah yang berbeda
Bisakah anda berikan contoh dari personal model??
BalasHapusModel belajar yg seperti apa yang cocok diterapkan pd anak kelas rendah
BalasHapusmodel belajar, model pembelajaran dan model mengajar
BalasHapusapakah ketiga istilah ini sama?
bila sama, bukankah belajar, pembelajaran dan mengajar memiliki makna yang berbeda?
bila berbeda, lalu bagaimana dengan definisi model belajar? karena tidak disebutkan di dalam artikel
Menurut saudara,jika saudara mejadi guru model pembelajaran seperti apa yang saudara terapkan?
BalasHapusFrom chingu