Rabu, 01 Mei 2019


MATERI 9
KEGIATAN REMEDIAL DAN KEGIATAN PENGAYAAN
Pembelajaran remedial dan pengayaan merupakan tindak lanjut guru terhadap proses dan hasil belajar peserta didik. Proses dan hasil belajar dapat berupa kesulitan penguasaan peserta didik terhadap satu atau dua kompetensi dasar,  dan tidak bersifat permanen. Jika pada kompetensi inti pengetahuaan dan keterampilan, peserta didik belum mampu menyelesaikan pekerjaan dengan prosedur yang benar dan hasil yang baik, maka peserta didik tersebut tidak diperkenakan mengerjakan pekerjaan berikutnya. Ibrahim Bafadal (2013) (dalam Sumantri 2016:421).
Program remedial dan pengayaan dimaksud untuk membantu guru memberikan penanganan bagi peserta didik yang memiliki kesulitan belajar pada umumnya, tidak terbatas pada sutu atau dua kompetensi dasar tetapi untuk selama bersekolah. Penanganannya memerlujan peran guru sebagai konselor, konselor sekolah, ahli psikologi, bahkan dokter dan ahli lainnya.
A.    KEGIATAN REMEDIAL
1.      Penertian Remedial
Program remedial adalah program pembelajaran yang diberikan kepada peserta didik yang belim mencapai kompetensi minimalnya dalam kompetensi dasar tertentu. Metode yang digunakan dpat bervariasi sesuai dengan sifat, jenis, latar belakang kesulitan belajar yang dialami peserta didik dan tujuan pembelajarannya pun dirumuskan sesuai dengan kesulitan yang dialami peserta didik.
Pada program pembelajaran remedial, media belajar haru betul betul disiapkan guru agar dapat mempermudah peserta didik dalam memahami pelajaran yang dirasa sulit. Alat evaluasi yang digunakan dalam pembelajaran remedial pun perlu disesuaikan dengan kesulitan belajar yang dialami peserta didik (Ibrahim Bafadal, 2013) (dalam Sumantri 2016:422)
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa kegiatan Remedial adalah suatu kegiatan pembelajaran yang khusus yang diberikan oleh seorang pendidik kepada peserta didik yang belum mencapai kompetensi dasar yang sudah ditentukan, dengan berbagai cara yang salah satunya yaitu dengan mendekati anak didik, mencari tahu kekurang dan kelebihan anak didik lalu menyususun pembelanjaran selanjutnya.
2.      Prinsip prinsip remedial
Menurut Ibrahim Bafadal (2013) (dalam Sumantri, 2016:424) terdapat beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran remedial sesuai dengan sifatnya sebagai peleyanana khusus antara lain:
a.       Adaftif
Pembelajaran remedial hendaknya memungkinkan peserta didik untuk belajar sesuai dengan dya tangkap, kesempatan, dan gaya belajar masing masing
b.      Interaktif
Pembelajaran remedial hendaknya melibatkan keaktifan guru untuk secara intensif berinteraksi dengan peserta didik dan selalu memberikan monitoring dan pengawasan agar mengetahui kemajuan belajar peserta didiknya.
c.       Fleksibilitas dalam metode pembelajaran dan penilaian
Pembelajaran remedial perlu menggunakan berbagai metode pembelajaran dan metode penilaian yang sesuai dengan karakteristik peserta didik
d.      Pemberian umpan balik sesegera mungkin
Umpan balik berupa informasi yang diberikan kepada peserta didik mengenai kemajuan belajarnya perlu diberikan sesegera mungkin agar dapat menghindari kekeliruan belajar yang berlarut larut
e.       Peleyanan sepanjang waktu
Pembelajaran remedial harus berkesinambungan dan programnya selalu tersedia agar setiap saat peserta didik dapat mengaksesnya sesuai dengan kesempatan masing masing.
3.      Langkah langkah pembelajaran remedial
1.      Identifikasi permasalahan pembelajaran
a.       Permasalahan pada keunikan peserta didik
b.      Permasalahan pada materi ajar
c.       Permasalahan pada strategi pembelajaran
2.      Perencanaan
Dalam perencanaan guru perlu menyiapkan hal hal yang mungkin diperlukan dalam pelaksanaan pembelajaran remedial yaitu:
a.       Menyiapkan media pembelajaran
b.      Menyiapkan contoh contoh dan alternative altivitas
c.       Menyiapkan materi materi dan alat pendukung
3.      Pelaksanaan
Setelah perencanaan disusun, langkah selanjutnya adalah melaksanakan program pembelajaran remedial. Ada 3 penekanan:
a.       Penekanan pada keunikan peserta didik
b.      Penekanan pada alternative contoh dan aktivitas terkait materi ajar
c.       Penekanan pada strategi/ metode pembelajaran
4.      Penilaian autentik
Penilaian autentik dilakukan setelah pembelajaran remedial selesai dilaksanakan.
Berdasrkan hasil penilaian, bila peserta didik belum mecapai kompetensi miniman (tujuan) yang ditetapkan guru, maka guru perlu meninjau kembali strategi pembelajaran remedial yang diterapkannya atau melakukan identifikasi (analisi kebutuhan) terhadap peserta didik dengan lebih seksama.
Apabila peserta didik berhasil mencapai atau melampaui tujuan yang telah ditetapkan, guru berhasil memberikan pembelajaran yang kaya dan bermakna bagi peserta didik, hal ini bisa dipertahankan sebagai bahan rujukan bagi rekan guru lainnya atau bisa lebih diperkaya lagi.
B.     KEGIATAN PENGAYAAN
Dalam kurikulum dirumuskan secara jelas kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) yang harus dikuasi peserta didik. Penguasaan KI dan KD setiap peserta didik diukur dengan menggunakan sitem Penilaian Acuan Kriteria (PAK). Jika seorang peserta didik mencapai standar tertentu, maka peserta didik terebut dipandang telah mencapai ketuntasan.
Oleh karena itu, program pengayaan dapat diartikan memberikan tambahan/peluasan pengalaman atau kegiatan peserta didik yang teridentifikasi melampaui ketuntasan yang ditentukan oleh kurikulum
Metode yang digunakan dapat bervariasi sesuai dengan sifat, jenis, dan latar belakan kesulitan yang dialami peserta didik. Dalam program pengayaan, media belajar haru betul betul disiapkan guru agar dapat memfasilitasi peserta didik dalam menguasai materi yang diberikan (Ibarahim Bafadal, 2013) (dalam Sumantri, 2016: 438)


DAFTAR PUSTAKA
Sumantri, Mohamad Syarif, 2016. Strategi Pembelajaran Teori dan Praktek di Tingkat Pendidikan dasar. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada

MATERI 8
KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR II
A.    KETERAMPILAN MEMBUKA DAN MENUTUP PELAJARAN
Menurut Djamarah (2000:142) keterampilan membuka dan menutup pelajaran sebagai berikut:
1.      Keterampilan membuka pelajaran
a.       Menarik perhatian dan menimbulkan motivasi
Menarik perhatian anak didik dap dilakukan de mengubah gaya mengajar guru. Guru biasa berdiri di depan kemudian berdiri di belakang. Suara yang biasa keras diubah menjadi suara yang pelan dan bercerita. Penggunaan alat bantu atau media pelajaran juga dapat menarik perhatian anak didik. Anak didik dimintak untuk ,mengamati gambar atau poster, mendengarkan lagu, melihat film, membaca berita kontenporer, mellihat foto atau lukisan. Variasi pola interaksi guru dengan anak didik juga akan dapat menarik perhatian. Guru bisa berbicara pada peserta didik, sekarang diubah, anak didik yang berbicara pada guru, dapat juga antara anak didik dengan anak didik lainnya. Guru dapat melaksanakan proses interaksi edukatif dalam bentuk kelompok besar atau individual. Untuk menimbulkan atau membangkitkan motivasi anak didik terhadap pelajaran yang akan diberikan dapat dilakukan dengan menciptakan rasa ingin tahu, membuat kejutan dalam kelas, member pertentangan konsep . minat juga merupakan sumber motivasi yang dapat dimanfaatkan untuk membangkitkan gairah belajar anak didik.
b.      Member acuan dan membuat kaitan
Pada setiap permulaan pelajaran baru, guru berkesempatan membuat kaitan antara bahan pelajaran baru dengan bahan pelajaran yang telah dikenalnya. Hal ini merupakan usaha melakukan kesinambungan. Usaha membuat kaitan antara lain membandingkan dan mempertentangkan bahan pelajaran yang baru, setiap saat guru dapat meminta sambungan pikiran anak didik, hal ini guru harus memberikan penguatan sekaligus membuat kaitan kognitif. Komentar yang bertujuan kembali pada bats tugas adalah juga merupakan usaha membuat kaitan.
Membuat kaitan atau hubungan di antara materi materi sebaiknya disesuaikan dengan pengalaman dan pengetahuan siswa. Lain halnya dengan member acuan, dapat diusahakan melalui berbagai usaha seperti mengemukakan tujuan dan batas batas tugas, menyarankan langkah langkah yang akan dilakukan, menhingat masalah pokok yang akan dibahas dan mengajukan pertanyaan pertanyaan.
2.      Keterampilan menutup pelajaran
a.       Review
Untuk menutup pelajaran guru sebaiknya mengulangi kembali (meninjau kembali) hal hal yang dianggap penting, atau kunci bahan pelajaran yang diberikan. Hal ini dapat dilakukan setiap saat selesai memberikan satu konsep ataupunpada akhir pelajaran. Dengan melalui beberapa pertanyaan atau setelah membahas bagian bagian dari satu topic, anak didik dapat diminta mengungkapkan kembali bahan pelajaran yang baru saja didiskusikan. Membuat rangkuman bahan pelajaran lebih baik dilakukan secara tertulis daripada secara lisan.
b.      Evaluasi
Dalam menutup pelajaran, disamping me review, guru seharusnya juga melakukan evaluasi terhadap proses interaksi edukatif yang baru saja dilakukan dengan:
1)   Meminta anak didik mendemonstrasikan keterampilan yang baru saja dipelajari.
2)   Memintak anak didik mengaplikasikan konsep atau ide yang baru pada situsi yang berbeda.
3)   Meminta anak didik mengekspresikan pendapat sendiri.
4)   Meminta anal didik mengerjakan soal tertulis, baik objektif maupun subjektif.

B.     KETERAMPILAN MEMBIMBING DISKUSI KELOMPOK KECIL
Menurut Sumiati dan Asra ( 2016:144) Jika jumlah siswa tidak terlalu banyak, maka guru bisa secara langsung menjadi pemimpin atau moderator dikusi. Namu jika jumlah siswa cukup banyak, maka guru bisa membagi siswa menjadi kelompo kelompok yang lebih kecil.
Ketika gur menjadi moderator atau memimpin diskusi, maka perlu diperhatikan hal hal betikut ini:
1.      Menentukan materi atau masalah yang diinginkan didiskusikan
2.      Waktu fleksibel namu ada batasan yang disepakati
3.      Membimbing kelompok agar tetap relevan dan tertuju pada permasalahan yang didiskusikan
4.      Berikan kepada semua siswa kesempatan untuk membarikan kontribusi dan partisipasinya jangan ada siswa yang mendominasi atau mengganggu diskusi. Semua pendapat dihargai dan jangan disalahkan secara langsung walaupun yang diungkapkan oleh siswa itu salah.
5.      Berikan dorongan agar siswa jangan takut untuk memberikan pendapat yang bebeda dengan apa yang telah disampaikan. Ketika ada perbedaan pendapat yang dikemukakan, guru hendaknya member contoh dalam menghormati berbagai pendapat, yaitu bagaimana seorang guru memberikan perlakuan yang sama terhadap pendapat yang berbeda.

Peranan guru sebagai pemimpin diskusi pada umunya adalah sebagai berikut:
1.      Pengatur jalannya diskusi, yaitu:
a.       Menunjukkan pertanyaan kepada seorang siswa
b.      Menjaga ketertiban pembicaraan
c.       Memberikan rangsangan kepada siswa untuk berpendapat
d.      Memperjelas suatu pendapat yang dikemukakan
2.      Sebagai dinding penangkis, yaitu menerima dan menyebarkan pertayaan/pendapat kepada seluruh peserta.
3.      Sebagai pentunjuk jalan, yaitu memberikan pengarahan tentang cara diskusi


C.    KETERAMPILAN MENGELOLA KELAS
Masalah poko yang dihadapi guru, baik  pemula maupun yang sudah berpengalaman adalah pengelolaan  kelas. Pengelolaan kelas merupakan masalah yang kompleks. Guru menggunakannya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas untuk mencapai tujuan pengajaran secara efisien dan memungkinkan anak didik dapat belajar. dengan demikian pengelolaan kelas yang efektif adalah syarat bagi pengajaran yang efektif. Tugas utama dan yang paling sukit dilakukan guru adalah pengelolaan kelas, lebih lebih tidak ada stu pun pendekatan yang dikatakan  paling baik. Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses interaksi edukatif.

D.    KETERAMPILAN MENGAJAR KELOMPOK KECIL DAN PERORANGAN
Menurut Djamarah (2000:163) ada beberapa keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan.
1.      Rasional
Salah satu cara dari sekian banyak cara untuk ,meningkatkan kadar CBSA ( cara belajar siswa aktif) adalah dengan mengembangkan keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan. Keterampilan ini akan meingkatkan pemahaman  guru dan anak didik yang terlibat, juga pemahaman dalam mengorganisasikan proses interaksi edukatif. Hubungan interpersonal dan sosial, dan mengorganisasikan adalah hal yang penting untuk menyukseskan mengajar kelompok keci dan perorangan. Karena itu guru harus memiliki keterampilan melakukan hubungan atarpribadi, bila ingin mengaplikasikan keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan.
2.      Pengertian
Pengelompokan anak didik dalam proses interaksi edukatif merupakan pembentukan organisasi sosial dalam pengajaran. Ada tiga cara pengelompokan yang dapat dilakukan yaitu:
a.       Atas dasar tugas tugas khusus
b.      Atas dasar dinamika proses kelompok antara anak didik dan,
c.       Atas dasr pengalaman pembentukan kelompok yang telah dilakukan oleh guru dengan anak didik sebagai kelompok kerja.
3.      Penggunaan dalam data kelas
Dalam mengajar kelompok keci dan perorangan, guru bertindak sebagai operator dalam sistem tersebut. Untuk ini ada empat jenis keterampilan yang diperlukan, yaitu:
a.       Keterampilan mengadakan pendekatan secara pribadi
b.      Keterampilan mengorganisasi
c.       Keterampilan membimbing dan membantu
d.      Keterampilan kurikulum
e.       Aplikasi keterampilan



Daftar pustaka
Djamarah, Syaiful Bahri. 2000. Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: PT Rineka Cipta
Sumiati dan Asra. 2016. Metode Pembelajaran. Bandung: CV Wacana Prima

Rabu, 24 April 2019


METERI VI
KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR DALAM PEMBELAJARAN DI SD
A.    Hakikat, Fungsi, dan Peranan Media Pembelajaran
1.      Hakikat pembelajaran
Media pembelajaran merupakan sebagai wahana untuk memberikan pengalaman belajar. media pembelajaran menurut Gagne, dinyatakan sebagi komponen sumber belajar yang dapat merangsang siswa untuk belajar ( Sumantri, 2016:303) .
Media pembelajaran merupakan bagian integral dalam sistem pembelajaran. Banyak macam media pembelajaran dapat digunakan. Penggunaan media pembelajaran harus didasarkan pada pemilihan yang tepat sihingga dapat memperbesar arti dan fungsi dalam menunjang efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran.
Media pembelajaran diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan(message), merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa sehingga mendorong proses belajar. Bentuk bentuk media pembelajaran digunakan untuk meningkatkan pengalaman belajar agar menjadi lebih konkrit. Pembelajaran dengan menggunakan  edia pembelajaran tidak hanya sekedar menggunakan kata kata (symbol verbal). Dengan demikian, dapat kita harapkan hasil pengalaman belajar lebih berarti bagi siswa (Sumiati dan Asra 2016:160).
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa, media pembelajaran adalah suatu jembatan untuk menyampaikan suatu pelajaran oleh seorang pendidik kepada peserta didiknya  agar peserta didik dapat menerima pelajaran dengan cepat dan menyenangkan sesuai dengan tujuan pembelajaran tersebut.
2.      Fungsi Media Pembelajaran
Menurut Anitah (2008:6.8) fungsi media pembelajaran, dapat ditekankan beberapa hal berikut:
a.    Penggunaan media pembelajaran bukan merupakan fungsi tambahan, tetapi memiliki fungsi tersendiri sebagai sarana bantu untuk, mewujudkan situasi pembelajaran yang lebih efektif
b.    Media pembelajaran bagian intelegtual dari keseluruhan proses pembelajaran. Hal ini mengandung pengertian bahwa media pembelajaran sebagai salah satu komponen yang tidak terdiri sendiri tetapi saling berhubungan dengan komponen lainnya dalam rangka menciptakan situasi belajar yang diharapkan.
c.    Media pembelajaran dalam penggunaannya harus relevan dengan kompetensi yang ingin tercapai dan isi pembelajaran itu sendiri. Fungsi ini mengandung makna bahwa penggunaan media dalam pembelajaran harus selalu melihat kepada kompetinsi dan bahan ajar
d.   Media pembelajaran bukan berfungsi sebagai alat hiburan. Dengan demikian, tidak diperkenankan menggunakannya dengan pembelajaran hanya sekedar untuk permainan atau memancing perhatian siswa semata.
e.    Media pembelajaran bisa berfungsi untuk mempercepat proses belajar. fungsi ini mengandung arti bahwa dengan media pembelajaran siswa dapat menangkap tujuan dan bahan ajar lebih mudah dan cepat.
f.     Media pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar. Pada umumnya hasil belajar siswa dengan menggunakan media pembelajaran siswa dengan menggunakan media pembelajaran akan tahan lama mengendap sehingga kualitas pembelajaran memiliki nilai yang tinggi.
g.    Media pembelajaran meletakkan dasar dasar yang konkret untuk berpikir. Oleh karena itu, dapat mengurangi terjadinya penyakit verbalisme.

B.     Jenis dan Karakteristik Media Pembelajaran
Penggunaan media yang berlebihan dalam suatu kegiantan pembelajaran akan menggaburkan tujuan dan isi pembelajaran. Oleh karena itu, sebelum menggunakan media ini, ada perkunya memahami terlebih dahulu mengenai jenis media yang digunakan dalam kegiatan pebelajaran beserta karakteristiknya.
Menurut Anitah (2008:6.16) jenis jenis media pembelajaran sebagai berikut:
1.      Media Visual
Media visual merupakn media yang hanya dapat dilihat dengan menggunakan indra penglihatan. Media visual terbagi 2:
a.       Media visual yang diproyeksikan (projected Visual)
Media visual yang dapat diproyeksikan pada dasarnya adalah media yang menggunakan alat proyeksi sehingga gambar atau tulisan tampak pada layar.
Contohnya: infokus
b.      Media visual tidak diproyeksikan (Non Projected Visual)
1)      Gambar fotografik
2)      Grafis
3)      Bagan
4)      Diagram
5)      Poster
2.      Media Audio
Media audio adalah media yang mengandung pesan dalam bentuk uditif (hanya dapat didengar) yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan para siswa untuk mempelajari bahan ajar.
Contohnya: program kaset suara, CD audio, dan program radio.
3.      Media Audiovisual
Media ini merupakan kombinasi audi dan visual atau biasa disebut ,media pandang dengar.
Contohnya: video

C.    Pemilihan, Pengunaan, Perawatan Media Pembelajaran Sederhana
1.      Pemilihan media
Media pembelajaran yang beraneka ragam itu dapat dimanfaatkan sebaik baiknya dalam pembelajaran dengan mempertimbangkan berbagai faktor. Faktor yang harus dipertimbangkan dalam memilih media pembelajaran menurut Sumiati dan asra (2016:165) adalah:
1.      Jenis kemampuan yang akan dicapai sesuai dengan tujuan
Sebagimana diketahui, bahwa tujuan pembelajaran itu menjangkau domain kognitif, efektif dan psikomotor. Jika akan memilih media pembelajaran, harus disesuaikan dengan tujuan yang akan dicapai.
2.      Kegunaan dari berbagai jenis media pembelajaran itu sendiri
Setiap jenis media pembelajaran mempunyai nilai kegunaan sendiri sendiri. Hal ini harus dijadikan bahan pertimbangan dalam jenis memilih media pembelajaran yang digunakan.
3.      Kemampuan guru menggunakan suatu jenis media pembelajaran
Betapapun tingginya nilai digunakan media pembelajaran, tidak akam member manfaat sedikitpun di tangan orang yang yang tidak mampu menggunakan media pembelajaran
4.      Fleksibilitas (lentur), tahan lama dan kenyamanan media pembelajaran
Dalam memilih media pembelajaran harus dipertimbnagkan kelenturan, dalam arti dapat digunakan dlam berbagai situasi, juga harus tahan lama (tidak sekali pakai langsung dibuang), untuk menghemat biaya dan digunakannya pun tidak berbahaya.
5.      Keefektifan suatu media pembelajaran dibandingkan dengan jenis media pembelajaran lain untuk digunakan dalam pembelajaran suatu materi pembelajaran tertentu.
2.      Penggunaan media pembelajaran
Menurut Sumiati dan Asra (2016:167) Sebelum menggunakan media pembelajaran dalam proses pembelajaran, terlebih dahulu guru sebaiknya memperhatikan hal berikut:
a.       Guru mencoba media pembelajaran, sehingga diketahui apakah masih berfungsi atau tidak. Jika tidak berfungsi maka guru hendaknya memperbaiki terlebih dahulu.
b.      Memperhatikan silabus atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) , terutam berkaitan dengan metode pembelajaran yang akan disampaikan dan organisasi kelas, sehingga diketahui apakah media pembelajran itu untuk individual, kelompok atau klasikal.
c.       Menyiapkan dan menentukan media pembelajaran yang akan dipakai sesuai dengan kebutuhan.
d.      Memberikan bimbingan dan pengawasan selama penggunaan media pembelajaran tersebut oleh siswa agar berfungsi sesuai dengan tujuan yang dihaapkan. Selama proses pembelajaran ini pun, guru perlu memperhatikan kebersihan dan keamanan siswa dalam menggunakan media pembelajaran tersebut.
e.       Setelah proses pembelajarn berakhir, maka siswa dilatih untuk bertanggung jawab dengan memeriksa kelengkapan media pembelajaran tersebut agar seperti sediakala dan menyimpannya pada tempat yang telah ditentukan.

3.      Pemeliharaan media pembelajaran
Berikut ini diuraikan beberapa cara praktis dalam memelihara dan merawat media pembelajaran sederhana yang bisa dilakukan tanpa harus mengeluarkan biaya yang terlalu banyak, bahkan tanpa biaya sedikit pun, antara lain:
a.       Media grafis, seperti bagan, diagram, grafik, poster, dan kartun yang dibuat dengan ukuran cukup besar (ukuran karton manila), bisa diberi bingkai pada bagian atas dan bawahnya. Cara menyimpannya tidak digulung atau dilipat supaya media tersebut tidak cepat rusak atau robek.
b.      Dalam rangka upaya pemeliharaan dan kepraktisan dalam penggunaan media grafis, bisa diupayakan dengan pembuatan display atau papan penyajian.
c.       Apabila pihak sekolah memiliki dana yang cukup memadai, sebaiknya disediakan ruang tertentu untuk penyimpanan berbagai media pelajaran, baik yang telah dibuat sendiri oleh guru maupun hasil membeli dari took sehingga media tersebut awet/tahan lama dan terpelihara dengan baik.

D.    Pemanfaatan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar
Sumber belajar adalah semua sumber yang dapat digunakan oleh siswa dalam belajar. sumber sumber tersebut dapat berupa pesan atau informasi, orang, bahan bahan, alat/perlengkapan, teknik/metode, dan lingkungan.
Lingkungan sebagai sumber belajar memiliki nilai nilai yang sangat berharga yang dapat dioptimalkan dalam proses pembelajaran. Lingkungan dapat memperkaya bahan dan kegiatan belajar siswa. Lingkungan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar terdiri atas lingkungan fisik atau lingkungan alam. Lingkungan sosial dapat digunakan untuk mempelajari ilmu ilmu sosial dan kemanusiaan. Lingkungan akam dapat digunakan untuk mempelajari gejala gejala alam serta dapat menumbuhkan kesadaran siswa akan cinta alam dan berpartisipasi dalam pemeliharaan alam.
Prosedur belajar untuk memanfaatkan lingkungan sebagai sumber bealajar dapat ditempuh melalui kegiatan dengan membawa siswa ke lingkungan seperti survey, karyawisata, berkemah, dialam terbuka, praktik lapangan, dan pelayanan kepada masyarakat atau dengan membawa lingkungan ke dalam kelas/sekolah, seperti pemanfaatan narasumber yang ada di masyarakay untuk berbicaradi sekolah.
Agar penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar berhasil dengan baik, perlu dilakukan perencanaan, pelaksanaan, dan tindak lanjut. Dalam langkah langkah tersebut, guru dan siswa terlibat aktif sehingga kegiatan pemanfaatan lingkungan tersebut menjadi tanggung jawab bersama.


DAFTAR PUSTAKA
Anitah Sri. 2008. Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta: Universitas Terbuka
Sumiati dan Asra. 2016. Metode Pembelajaran. Bandung: CV Wacana Prima
Sumantri Mohamad Syarif. 2016. Strategi Pembelajaran Teori dan Praktik di Tingkat Pendidikan Dasar. Jakarta: PT Raja Grafindo Perseda